Setiap pagi, Bu Sur membuka warungnya dan mulai menyiapkan nasi pecel dan tumpang.
Begitulah yang sudah ia lakukan sejak 1994.
Dulu, satu porsi pecelnya hanya Rp750. Dalam liputan saat ini di tahun 2026, harganya Rp. 3.000. Sudah dapat nasi, pecel atau tumpang, tahu atau tempe, dan rempeyek.
Murah? Iya.
Tapi jangan salah, pembelinya banyak. Hari biasa Bu Sur bisa menghabiskan sekitar 25 kilogram beras. Kalau Minggu, bisa sampai 35 kilogram.
Yang datang juga macam-macam. Ada ibu-ibu, anak muda, keluarga, sampai rombongan gowes. Ada yang makan di tempat, ada juga yang bilang, “Bungkus, Bu.”
Warung buka dari pukul 05.30 sampai 13.30.
Bu Sur menjalankan warung bersama suaminya. Keuntungannya tidak besar, katanya, tapi masih bisa disisihkan sedikit untuk ditabung.
Mungkin memang begitu cara banyak orang bertahan hidup.
Tidak harus punya banyak.
Yang penting cukup untuk hari ini, cukup untuk keluarga, dan besok masih bisa buka lagi.
Warungnya sederhana. Ceritanya juga sederhana. Tapi sudah menemani pagi banyak orang selama puluhan tahun.
Dan besok pagi, Bu Sur buka lagi.