Orang Kediri itu punya hubungan yang unik dengan sejarah.
Kalau bicara Kerajaan Kadiri, dada bisa langsung membusung. Nama Jayabaya disebut dengan penuh kebanggaan. Kisah kejayaan masa lampau diceritakan seolah kita baru saja pulang dari istana.
Dan memang, kita punya alasan untuk bangga.
Tidak semua kota pernah menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban Nusantara. Tidak semua tempat memiliki warisan sejarah sepanjang Kediri.
Tetapi ada satu hal yang kadang membuat saya bertanya-tanya.
Kalau kita begitu mencintai sejarah, mengapa beberapa peninggalannya justru seperti harus meminta izin untuk tetap diingat?
Ambil contoh Setono Gedong.
Sebuah tempat di tengah Kota Kediri yang akrab dengan kehidupan masyarakat, terutama sebagai kawasan makam Syekh Al-Wasil atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Wasil.
Orang datang untuk berziarah. Ada yang memanjatkan doa, mengenang perjalanan seorang tokoh agama, atau sekadar mencari ketenangan.
Pemandangan yang hangat dan manusiawi.
Saya bisa memahami mengapa tempat itu begitu berarti. Sebab bagi banyak orang, sejarah bukan cuma perkara tahun, batu, dan nama kerajaan. Sejarah juga hidup dalam doa, cerita keluarga, dan kebiasaan yang diwariskan turun-temurun.
Namun, ada cerita lain di Setono Gedong yang rasanya belum mendapatkan perhatian sebanding.
Di kawasan yang sama terdapat jejak struktur bata kuno yang dikaitkan dengan bangunan candi dari masa Hindu-Buddha.
Artinya, jauh sebelum kita mengenal Setono Gedong seperti sekarang, tempat itu telah memiliki cerita.
Cerita tentang manusia-manusia yang pernah hidup, membangun, beribadah, dan meninggalkan jejak peradabannya.
Sayangnya, cerita yang lebih tua belum tentu menjadi cerita yang lebih dikenal.
Mungkin Candinya Memang Kurang Pandai Bergaul
Kalau dipikir-pikir, kasihan juga menjadi candi.
Sudah berumur ratusan tahun, tidak bisa bicara, tidak bisa protes, dan tentu saja tidak bisa membuat konten TikTok untuk memperkenalkan diri.
Ketika orang-orang datang, ia hanya bisa diam.
Barangkali kalau batu-batu tua itu bisa bicara, mereka akan berkata:
"Nuwun sewu, saya juga punya cerita di sini."
Tetapi bagaimana mungkin orang mendengar kalau keberadaannya saja belum banyak diketahui?
Di sinilah ironi itu muncul.
Kita sering membanggakan Kediri sebagai tanah kerajaan besar, tetapi belum tentu mengenal peninggalan kerajaan yang ada di sekitar kita sendiri.
Kita fasih bercerita tentang kejayaan masa lalu, tetapi kadang gagap ketika ditanya bagaimana nasib peninggalannya hari ini.
Bukan berarti masyarakat tidak peduli.
Mungkin kita memang kurang diberi kesempatan untuk mengenalnya.
Anak-anak sekolah diajari sejarah kerajaan di ruang kelas. Mereka menghafal nama raja, tahun, dan peristiwa penting untuk menghadapi ujian.
Padahal tidak jauh dari kehidupan sehari-hari mereka, ada jejak sejarah yang bisa dilihat langsung.
Bukankah menyenangkan jika seorang anak pulang dari Setono Gedong dengan dua cerita?
Satu tentang Syekh Wasil dan perkembangan Islam di Kediri.
Satu lagi tentang peradaban yang telah meninggalkan jejak di tempat itu jauh sebelumnya.
Tidak perlu memilih salah satu.
Sejarah kita cukup luas untuk menampung keduanya.
Menghormati yang Datang Kemudian, Bukan Melupakan yang Lebih Dahulu
Saya kira tidak ada alasan untuk mempertentangkan makam Syekh Wasil dengan peninggalan candi.
Keduanya lahir dari masa yang berbeda. Keduanya memiliki tempat dalam perjalanan panjang masyarakat Kediri.
Menghormati seorang ulama tidak harus membuat kita melupakan peradaban sebelumnya.
Begitu pula merawat peninggalan Hindu-Buddha tidak akan mengurangi penghormatan kita terhadap tokoh Islam.
Justru di situlah keindahan sejarah Kediri.
Sebuah tempat bisa menjadi saksi pergantian zaman tanpa harus memusuhi masa lalunya.
Yang mengusik bukan keberadaan makam atau aktivitas ziarahnya.
Yang mengusik adalah kemungkinan bahwa kita semakin terbiasa mengenal suatu tempat melalui satu cerita saja, sementara cerita lainnya perlahan menghilang dari percakapan.
Seolah-olah sejarah pun harus belajar sopan santun.
Yang lebih tua diminta mengalah.
Yang tidak lagi populer dipersilakan menepi.
Dan yang sudah tidak punya banyak pengikut, barangkali cukup disebut dalam papan informasi. Itu pun kalau ada dan cukup jelas untuk dibaca.
Padahal sejarah bukan perlombaan mencari siapa yang paling pantas dikenang.
Sejarah adalah perjalanan panjang yang membuat kita menjadi manusia seperti hari ini.
Jangan Sampai yang Hilang Bukan Hanya Batunya, tetapi Juga Ingatan Kita
Saya tidak tahu persis bagaimana setiap perubahan fisik di Setono Gedong berlangsung sepanjang zaman.
Bangunan bisa rusak karena usia. Struktur bisa berubah karena berbagai kepentingan. Sebagian peninggalan mungkin telah mengalami perubahan bahkan jauh sebelum generasi kita lahir.
Karena itu, terlalu mudah jika kita langsung menyalahkan seseorang.
Tetapi terlalu mudah pula jika kita memilih tidak bertanya.
Bagaimana kondisi peninggalan candi di sana sekarang?
Apa saja yang masih asli? Bagian mana yang telah mengalami perubahan? Bagaimana upaya pelestariannya? Dan seberapa jauh masyarakat diberi kesempatan untuk mengetahui sejarahnya secara utuh?
Pertanyaan itu bukan untuk mencari musuh.
Justru karena kita sayang kepada Kediri.
Sebab kehilangan cagar budaya tidak selalu dimulai dari tindakan merobohkan bangunan.
Kadang kehilangan dimulai ketika orang tidak lagi tahu bahwa sesuatu pernah berdiri di sana.
Lalu satu generasi berlalu.
Generasi berikutnya mengenal tempat yang sama dengan cerita yang semakin pendek.
Sampai akhirnya yang tersisa bukan lagi sejarah yang lengkap, melainkan sekadar kisah yang paling sering diulang.
Dan kita menyebutnya warisan.
Kediri Tidak Kekurangan Sejarah, Kita Hanya Perlu Lebih Adil dalam Menceritakannya
Saya membayangkan Setono Gedong suatu hari menjadi tempat di mana orang bisa datang bukan hanya untuk berziarah, tetapi juga untuk memahami perjalanan peradaban Kediri.
Ada penjelasan yang baik mengenai Syekh Wasil.
Ada pula informasi yang jelas tentang peninggalan candi, struktur bata kuno, perkiraan periodenya, dan bagaimana kawasan tersebut berubah dari masa ke masa.
Anak-anak bisa belajar.
Peziarah bisa mendapatkan pengetahuan tambahan.
Masyarakat bisa merasa memiliki seluruh sejarah kotanya, bukan hanya bagian yang kebetulan paling dekat dengan kehidupan mereka hari ini.
Tidak perlu ada yang dikurangi penghormatannya.
Tidak perlu ada cerita yang disingkirkan.
Bukankah justru lebih indah jika kita mampu merawat perbedaan yang telah diwariskan oleh para pendahulu?
Karena pada akhirnya, candi itu tidak meminta banyak.
Ia tidak meminta orang datang membawa bunga.
Tidak meminta dibuatkan perayaan.
Tidak pula meminta manusia zaman sekarang kembali kepada keyakinan masa lalu.
Ia hanya peninggalan tua yang, melalui batu-batunya, menyimpan cerita tentang manusia yang pernah ada.
Dan rasanya, permintaan untuk tidak dilupakan bukanlah permintaan yang berlebihan.
Tetapi barangkali saya terlalu berharap.
Di negeri yang gemar merayakan masa lalu, kadang yang paling sulit justru menjaga apa yang benar-benar ditinggalkan masa lalu.
Maka, untuk sementara, mungkin candi di Setono Gedong memang harus tahu diri.
Tidak usah terlalu banyak menuntut perhatian.
Tidak perlu bersaing dengan cerita yang lebih populer.
Cukup diam, sebagaimana batu-batu itu telah diam selama berabad-abad.
Namun, kalau suatu hari anak cucu kita bertanya mengapa sejarah Kediri hanya menyisakan begitu sedikit jejak yang bisa mereka kenali, semoga kita tidak menjawabnya dengan ikut diam.
Sebab yang seharusnya tahu diri bukanlah candinya.
Melainkan kita, yang mengaku begitu mencintai sejarah, tetapi belum tentu cukup peduli untuk merawat seluruh ceritanya.
Kediri punya sejarah yang panjang. Sayang kalau kita hanya membaca halaman yang paling sering dibuka.