Melalui yayasan kemanusiaan yang didirikannya, The Atlantic Philanthropies, Feeney menghibahkan lebih dari US$ 8 miliar (sekitar Rp124 triliun) selama empat dekade. Luar biasanya, ia melakukan aksi ini secara anonim. Dunia baru mengetahui bahwa dialah donor raksasa tersebut setelah ia terpaksa membuka identitasnya karena sengketa bisnis pada tahun 1997.
Uangnya disalurkan ke berbagai sektor di seluruh dunia, termasuk:Pendidikan: Lebih dari US$ 3,7 miliar disumbangkan untuk universitas, termasuk almamaternya, Cornell University.Kesehatan: Memodernisasi sistem kesehatan masyarakat di Vietnam.Hak Asasi Manusia & Perdamaian: Mendanai proses perdamaian di Irlandia Utara.
Hidup Sangat Sederhana (Frugal)
Meski memiliki kekayaan miliaran dolar, gaya hidup Feeney justru berbanding terbalik dengan stereotip miliarder pada umumnya. Ia dikenal hidup dengan tingkat kesederhanaan yang ekstrem:Tidak memiliki rumah mewah atau mobil. Ia dan istrinya memilih tinggal di apartemen sewaan sederhana.Ke mana-mana selalu menggunakan taksi, kereta bawah tanah, atau berjalan kaki.Selalu terbang menggunakan pesawat kelas ekonomi, bahkan untuk perjalanan internasional.Hanya memakai jam tangan Casio murah seharga US$ 15.
Sukses Menjadi "Bangkrut"
Sebelum WafatPada September 2020, di usia 89 tahun, Chuck Feeney resmi menandatangani dokumen pembubaran The Atlantic Philanthropies karena seluruh dana di dalamnya telah habis disalurkan. Ia hanya menyisakan sekitar US$ 2 juta (sekitar Rp31 miliar) untuk biaya hidup sisa masa tuanya bersama sang istri.Feeney berhasil mencapai impian hidupnya, yaitu mati dalam keadaan bangkrut demi menolong sesama. Ia wafat dalam kedamaian pada Oktober 2023 di usia 92 tahun.
Menjadi Inspirasi Bill Gates dan Warren Buffett
Kisah nyata Chuck Feeney merupakan inspirasi utama di balik terbentuknya The Giving Pledge, sebuah kampanye yang diinisiasi oleh Bill Gates dan Warren Buffett untuk mengajak orang-orang terkaya di dunia menyumbangkan mayoritas harta mereka. Warren Buffett bahkan menyebut Feeney sebagai pahlawannya