Mengurus pertunjukan seni itu ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Ada urusan panggung, tata cahaya, pemain, anggaran, hingga sponsor yang kadang lebih sulit ditemui daripada makhluk gaib.
Tetapi untuk Waringin Sasmita: Jaga Jagat, saya punya satu urusan tambahan yang sepertinya belum pernah masuk dalam kurikulum manajemen pertunjukan.
Saya harus menghadap Dewi Durga.
Ya, Durga.
Bukan kepala dinas kebudayaan. Bukan camat. Apalagi pejabat yang baru bersedia menemui setelah proposal melewati tujuh meja dan tiga kali revisi.
Saya hendak menghadirkan simbol Batara Kala dalam sebuah pertunjukan. Sosok yang dalam kosmologi Jawa membawa persoalan tentang waktu, ketakutan, kekuatan, dan batas kehidupan.
Yang membuat urusan ini semakin menarik, patung Batara Kala tersebut dibuat dari waringin.
Pohon yang dalam kebudayaan Jawa bukan sekadar pohon besar untuk berteduh atau tempat parkir orang yang sedang mencari sinyal.
Waringin adalah lambang kehidupan. Akar-akarnya mencengkeram bumi, batangnya berdiri di dunia manusia, sementara cabang-cabangnya menjangkau langit.
Seolah hendak mengingatkan bahwa kehidupan tidak pernah berdiri sendirian.
Ada yang di bawah, ada yang di atas, dan ada manusia di tengah-tengah yang sering merasa paling berkuasa.
Saya berpikir, menghadirkan Batara Kala dari waringin tanpa terlebih dahulu memohon restu kepada kekuatan yang saya hormati rasanya kurang pantas.
Maka berangkatlah saya menuju Candi Gambar Wetan, di lereng Gunung Kelud.
Tempat batu-batu tua menyimpan ingatan lebih panjang daripada umur kerajaan, sementara manusia modern bahkan sering lupa di mana meletakkan kunci motornya.
Di sana, Dwarapala berdiri menjaga.
Wajahnya sangar. Tatapannya tegas. Tidak tersenyum, tidak menawarkan brosur, dan jelas tidak memiliki bagian layanan pelanggan.
Saya membatin.
"Mbah, kula nuwun. Saya hendak menghadap Dewi Durga. Ada sedikit urusan kesenian."
Tentu saja batu itu diam.
Mungkin ia sedang mempertimbangkan apakah manusia yang datang ini sungguh-sungguh punya urusan penting atau hanya kurang tidur.
Menghadap Durga, Bukan Mengajukan Proposal
Di antara pepohonan, bebatuan, dan hawa Kelud, saya mulai membayangkan sedang berhadapan dengan Dewi Durga.
Sosok yang dalam tradisi Hindu dikenal sebagai kekuatan dahsyat penakluk kejahatan, sementara dalam berbagai kisah Jawa hadir dengan lapisan makna yang lebih rumit, antara yang sakral, menggetarkan, dan menakutkan.
Saya menundukkan kepala.
"Gusti Durga, saya hendak menghadirkan Batara Kala dalam pertunjukan Waringin Sasmita: Jaga Jagat."
Dalam percakapan batin saya, beliau seperti bertanya.
"Jaga Jagat? Jagat yang mana?"
Saya menjawab penuh keyakinan.
"Jagat Gedhe, Gusti. Bumi, alam, hutan, gunung, sungai, dan seluruh kehidupan."
"Lalu Jagat Alit?"
Saya terdiam.
Waduh.
Baru juga membuka pembicaraan, saya sudah kena pertanyaan yang tidak tercantum dalam proposal.
Jagat Gedhe yang Dirusak, Jagat Alit yang Rusuh
Kita sering berbicara tentang menyelamatkan dunia.
Menjaga hutan. Merawat sungai. Melindungi gunung. Menjaga keseimbangan alam.
Semuanya terdengar mulia.
Tetapi dalam pandangan kosmologi Jawa, jagat tidak berhenti pada bumi yang luas.
Ada Jagat Gedhe, alam semesta yang membentang di luar diri kita.
Dan ada Jagat Alit, alam kecil yang hidup dalam diri manusia.
Di dalamnya ada pikiran, perasaan, keinginan, ketakutan, keserakahan, nafsu, dan kesadaran.
Jagat yang ukurannya kecil, tetapi kegaduhannya kadang mengalahkan seluruh isi pasar pada malam menjelang Lebaran.
Saya kemudian tersadar.
Bagaimana mungkin manusia hendak menyelamatkan alam semesta jika mengurus dirinya sendiri saja masih berantakan?
Mulut berbicara tentang harmoni, tetapi hati penuh iri.
Mengajak menjaga bumi, tetapi keserakahan terus dipelihara.
Mengaku mencintai kehidupan, tetapi gampang sekali menyakiti sesama.
Menyuruh orang hidup sederhana, sementara dirinya sibuk menimbun sesuatu yang bahkan tidak akan mampu dibawa mati.
Jagat Gedhe rusak oleh tangan manusia. Jagat Alit rusak oleh isi kepala manusia.
Dan celakanya, kedua kerusakan itu saling berhubungan.
Hutan tidak tiba-tiba habis dengan sendirinya. Ada keinginan yang tidak mengenal cukup.
Gunung tidak mendadak kehilangan tubuhnya. Ada kerakusan yang merasa semua bisa dibeli.
Sungai tidak menjadi kotor karena airnya bercita-cita menjadi tempat sampah.
Semua bermula dari Jagat Alit yang kehilangan keseimbangan.
Rupanya masalah terbesar dunia bukan kekurangan orang pintar.
Melainkan kelebihan orang yang merasa paling pintar, tetapi lupa belajar mengendalikan dirinya sendiri.
Batara Kala dan Raksasa yang Tinggal di Dalam Dada
Dalam perenungan itu, saya membayangkan Durga kembali bertanya.
"Untuk apa kau menghadirkan Batara Kala?"
"Untuk mengingatkan manusia, Gusti."
"Mengingatkan tentang apa?"
"Tentang waktu, batas kehidupan, dan raksasa di dalam dirinya sendiri."
Sebab Batara Kala tidak harus dipahami semata sebagai sosok mengerikan dalam dongeng.
Ia bisa menjadi perlambang tentang waktu yang terus bergerak, tentang ketakutan, dan tentang sesuatu yang pada akhirnya tak mampu dikuasai manusia.
Kita takut kepada Kala yang digambarkan menelan dan memangsa.
Padahal setiap hari manusia juga sedang dimangsa.
Oleh ambisi.
Oleh gengsi.
Oleh keinginan menguasai.
Oleh rasa tidak pernah cukup.
Bahkan ada manusia yang hidupnya habis hanya untuk membuktikan bahwa dirinya lebih hebat daripada tetangganya.
Betapa tragis.
Batara Kala ditakuti karena wajahnya menyeramkan. Sementara raksasa dalam diri manusia sering dibiarkan tumbuh subur karena pandai menyamar sebagai cita-cita.
Barangkali itulah alasan Waringin Sasmita: Jaga Jagat perlu hadir.
Bukan sekadar mempertontonkan simbol mitologi yang menggetarkan.
Melainkan mengajak manusia bercermin.
Bahwa menjaga jagat harus dimulai dengan menjaga apa yang bersemayam dalam dirinya sendiri.
Sebab orang yang tidak mampu menjaga Jagat Alit bisa menjadi ancaman bagi Jagat Gedhe.
Kulit Ular Putih dan Urusan Restu yang Tidak Pakai Meterai
Namun perjalanan ke Gambar Wetan menyimpan satu peristiwa yang bagi saya terasa istimewa.
Saya menerima kulit ular berwarna putih.
Bukan ular hidup. Melainkan kulit yang telah ditanggalkannya.
Sesuatu yang mungkin bagi orang lain hanya sisa proses alamiah seekor reptil.
Tetapi bagi saya, dalam konteks perjalanan dan niat yang sedang saya bawa, kulit ular putih itu hadir sebagai tanda restu.
Saya tidak hendak membuktikan bahwa kahyangan sedang mengirim paket khusus untuk panitia kesenian.
Apalagi mengklaim Dewi Durga membuka jasa pengiriman benda pusaka.
Namun ada peristiwa yang maknanya tidak selalu habis dijelaskan oleh bentuk bendanya.
Kulit ular itu membuat saya berpikir.
Ular tumbuh dengan meninggalkan kulit lamanya.
Ia tidak membawa terus apa yang sudah tidak lagi memadai bagi tubuhnya.
Ia melepaskan.
Sementara manusia?
Sudah tahu kesombongannya menyiksa, masih dipelihara.
Sudah sadar keserakahannya merusak, masih dibesarkan.
Sudah paham amarahnya menghancurkan hubungan, masih juga dirawat seperti tanaman hias.
Ular berganti kulit untuk melanjutkan kehidupan. Manusia sering mempertahankan kulit lamanya meski sudah membuat dirinya sesak.
Jangan-jangan kita selama ini kalah bijaksana dari seekor ular.
Dalam percakapan imajiner saya, Durga seperti sedang tersenyum.
"Kau ingin menjaga jagat, tetapi sudahkah kau berani menanggalkan dirimu yang lama?"
Saya diam.
Pertanyaan itu rasanya lebih tajam daripada taring Batara Kala.
Sebab menjaga Jagat Alit tidak cukup dengan membaca mantra, menghadiri ritual, atau mengenakan simbol-simbol kesucian.
Ia juga menuntut keberanian untuk mengakui kesalahan, membatasi keinginan, dan membuang sifat-sifat yang perlahan merusak kehidupan.
Kadang yang paling sulit dilepaskan manusia bukan harta.
Melainkan keyakinan bahwa dirinya selalu benar.
Kulit Putih untuk Batara Kala dari Waringin
Saya memutuskan kulit ular putih itu akan dipasang pada patung Batara Kala yang dibuat dari waringin.
Bagi saya, pertemuan keduanya menyimpan bahasa simbol yang menarik.
Waringin mengingatkan tentang akar, kehidupan, dan keterhubungan antara alam dengan manusia.
Batara Kala mengingatkan tentang waktu, ketakutan, dan batas keberadaan.
Sementara kulit ular putih berbicara tentang pelepasan, perubahan, dan kemungkinan untuk memperbarui diri.
Tiga simbol yang tidak saya maksudkan sebagai rumusan ajaran keagamaan, tetapi sebagai percakapan artistik.
Waringin adalah kehidupan. Kala adalah waktu. Kulit ular adalah keberanian untuk berubah.
Ketiganya bertemu dalam satu tubuh pertunjukan.
Seakan mengingatkan bahwa menjaga jagat tidak cukup hanya dengan mempertahankan apa yang ada.
Terkadang kita justru harus berani melepaskan sesuatu.
Melepaskan keserakahan.
Melepaskan kesombongan.
Melepaskan kebencian.
Dan terutama, melepaskan anggapan bahwa manusia adalah pusat dari segala kehidupan.
Dalam benak saya, Durga kembali bertanya.
"Jadi, apa yang sebenarnya kau minta dariku?"
Saya menjawab pelan.
"Bukan kekuatan untuk menguasai jagat, Gusti. Saya hanya memohon agar tidak lupa menjaga diri sebelum mengajak orang lain menjaga dunia."
Tidak ada suara menggelegar.
Tidak ada petir menyambar.
Tidak ada pula surat persetujuan bermeterai yang turun dari langit.
Hanya keheningan Gambar Wetan dan angin Kelud yang bergerak di antara pepohonan.
Tetapi hari itu saya merasa membawa pulang sebuah pelajaran.
Dan selembar kulit ular putih.
Jaga Jagat, Sebelum Jagat Menjaga Diri dari Kita
Ketika meninggalkan Candi Gambar Wetan, saya kembali memikirkan nama pertunjukan itu.
Waringin Sasmita: Jaga Jagat.
Sasmita adalah isyarat, tanda yang mengundang manusia untuk membaca sesuatu lebih dalam daripada yang terlihat.
Mungkin waringin sedang memberi isyarat tentang kehidupan yang saling bertaut.
Mungkin Kala sedang mengingatkan bahwa waktu manusia tidaklah panjang.
Dan kulit ular putih itu, setidaknya bagi saya, memberi isyarat bahwa pembaruan harus dimulai dari kesediaan menanggalkan sesuatu yang lama.
Bukan hanya jagat di luar tubuh yang perlu dirawat.
Tetapi juga jagat di dalam dada.
Sebab percuma menanam seribu pohon jika keserakahan tetap tumbuh subur di kepala.
Percuma berbicara tentang keselarasan alam jika setiap hari kita sibuk merusak hubungan dengan manusia lain.
Dan percuma takut kepada Batara Kala jika kita justru membiarkan sifat-sifat raksasa menguasai diri sendiri.
Saya tidak tahu apakah Dewi Durga benar-benar berkenan atas permohonan saya.
Itu urusan yang terlalu besar untuk dipastikan oleh manusia yang bahkan sering keliru membaca pesan WhatsApp.
Tetapi dalam pengalaman batin saya, kulit ular putih itu telah menjadi tanda restu yang cukup untuk menguatkan niat.
Bukan sebagai jaminan bahwa segala sesuatu akan berjalan mulus.
Melainkan sebagai pengingat bahwa pertunjukan ini membawa tanggung jawab.
Kelak, ketika patung Batara Kala dari waringin berdiri dan kulit ular putih itu terpasang pada tubuhnya, saya berharap orang tidak sekadar melihat sosok yang menyeramkan.
Saya berharap mereka melihat sebuah pertanyaan yang diam-diam sedang menatap balik.
Sudahkah kita menjaga jagat, atau justru jagat sedang berusaha menyelamatkan dirinya dari kita?
Entahlah.
Yang jelas, saya berangkat ke Gambar Wetan untuk meminta izin kepada Dewi Durga.
Saya pulang membawa kulit ular putih.
Barangkali itu bukan jawaban atas semua pertanyaan.
Namun cukup untuk membuat saya memahami satu hal:
Sebelum sibuk menyelamatkan dunia, manusia sebaiknya belajar membersihkan kekacauan di dalam dirinya sendiri.
Sekarang tinggal menyiapkan pertunjukannya.
Semoga Batara Kala berkenan menjadi cermin.
Semoga waringin terus mengingatkan tentang kehidupan.
Semoga kulit ular putih itu menjadi penanda perubahan.
Dan semoga Dewi Durga tidak meminta laporan pertanggungjawaban.
Sebab terus terang, membuat laporan kepada manusia saja sudah cukup menguras kesabaran.
Apalagi kalau sampai diperiksa oleh auditor kahyangan.
Jangan-jangan yang pertama kali diminta bukan bukti pengeluaran.
Melainkan daftar kesombongan yang belum berhasil saya tanggalkan.
Nah, kalau itu yang diminta, saya bisa benar-benar kerepotan.
Jagat Gedhe tidak akan baik-baik saja selama Jagat Alit terus dibiarkan rusuh.
— Catatan dari lereng Kelud, menjelang Waringin Sasmita: Jaga Jagat.