Kediri — Zaman memang sudah kelewat kurang ajar.
Dahulu, manusia naik gunung untuk mencari petunjuk dari para resi. Sekarang, cukup membuka laptop, mengetik pertanyaan, lalu menunggu jawaban dari sesuatu yang disebut Artificial Intelligence.
Dahulu, seorang pertapa perlu menjalani laku panjang demi memperoleh kebijaksanaan. Sekarang, orang bisa meminta mesin menuliskan petuah kehidupan dalam tiga detik.
Lengkap dengan emoji bunga teratai.
Para dewa mungkin belum benar-benar pensiun. Tetapi sebagian pekerjaannya seolah telah diambil alih oleh algoritma.
Di tengah kegaduhan itu, hidup seorang lelaki Kediri bernama Emmanuel Rizky Yoga Pratama.
Orang-orang mengenalnya sebagai Mas Kinthoel.
Nama yang barangkali terlalu jenaka untuk dicantumkan dalam prasasti kerajaan. Bayangkan seandainya kelak para arkeolog menemukan lempengan tembaga bertuliskan:
"Maka pada tahun Saka sekian, turunlah Sang Mpu Kinthoel membawa wahyu dari server..."
Barangkali para ahli sejarah akan saling berpandangan, lalu memeriksa apakah prasasti tersebut benar-benar peninggalan kuno atau hasil keisengan mahasiswa semester akhir.
Tetapi justru di sanalah kisah ini bermula.
Sebab kebijaksanaan tidak selalu datang dengan nama yang terdengar sakral.
Kadang ia muncul dari seseorang yang memakai kaus sederhana, minum kopi, menatap layar komputer, dan sesekali mengumpat karena kode program yang kemarin berjalan lancar mendadak mogok tanpa alasan.
Ketika Lontar Kehilangan Pembaca, tetapi Server Kebanjiran Pengguna
Kediri bukan sembarang tanah.
Jauh sebelum orang mengenal komputer, wilayah ini telah menjadi bagian penting dari sejarah intelektual Nusantara.
Pada masa kerajaan, karya sastra tumbuh bersama perdebatan mengenai kekuasaan, moralitas, kehidupan, dan hubungan manusia dengan semesta.
Nama Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dikenang melalui Kakawin Bharatayuddha. Mpu Dharmaja melalui Smaradahana.
Mereka hidup dalam zaman ketika kata-kata memiliki bobot, ketika kesusastraan bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana menyimpan pandangan hidup suatu peradaban.
Kini zaman berubah.
*Lontar berganti layar sentuh.
Aksara berganti kode biner.
Pustaka digantikan pusat data.
Mantra berganti prompt.*
Dan orang yang dahulu meminta wejangan kepada seorang guru, kini terkadang lebih percaya kepada chatbot yang bahkan tidak tahu bagaimana rasanya tersandung batu.
Kemajuan ini tentu menakjubkan.
Namun, ada pertanyaan yang cukup mengganggu:
Jika semua pengetahuan bisa diakses begitu mudah, mengapa kebijaksanaan terasa semakin mahal?
Manusia memiliki mesin yang sanggup merangkum ribuan buku, tetapi sering tidak punya kesabaran membaca satu halaman sampai selesai.
Kita mampu menghasilkan jutaan kalimat dalam hitungan menit, tetapi semakin kesulitan mendengarkan orang lain berbicara.
Teknologi memperpendek jarak antarmanusia, sementara beberapa manusia justru semakin jauh dari dirinya sendiri.
Di titik inilah sosok Mas Kinthoel menarik untuk dijadikan bahan renungan.
Bukan karena ia telah menemukan jawaban atas seluruh persoalan tersebut.
Justru karena ia ikut bergulat di dalamnya.
Seorang Mpu yang Tidak Pandai Menyembunyikan Kabel
Mas Kinthoel merupakan salah seorang co-founder Kediri Technopark.
Jejak profesionalnya berakar pada dunia teknologi informasi, terutama infrastruktur dan jaringan komputer. Dalam perkembangan berikutnya, ia terlibat dalam kegiatan pendidikan teknologi, literasi digital, pengenalan kecerdasan buatan, serta kolaborasi dengan berbagai kalangan.
Tetapi tulisan ini tidak hendak menyusun daftar panjang prestasi.
Daftar prestasi cocok untuk proposal, LinkedIn, atau ketika seseorang ingin meyakinkan calon mertua.
Yang lebih menarik adalah membaca sosoknya sebagai perlambang sebuah ikhtiar.
Ikhtiar mempertemukan dua dunia yang kerap dianggap saling berjauhan.
Dunia leluhur yang bicara tentang dharma, keseimbangan, dan kebijaksanaan.
Dengan dunia modern yang bicara tentang algoritma, otomasi, dan kecerdasan buatan.
Dalam imajinasi kita, seorang mpu menempa besi menjadi keris.
Mas Kinthoel dan para pengembang teknologi menempa baris-baris kode menjadi perangkat lunak.
Seorang mpu dahulu harus memahami sifat logam sebelum menghasilkan pusaka.
Seorang insinyur hari ini mesti memahami sifat sistem sebelum menciptakan teknologi yang akan digunakan manusia.
Keduanya membutuhkan ketekunan.
Keduanya mengenal kegagalan.
Dan keduanya berpotensi menghasilkan sesuatu yang berbahaya apabila kekuatan tidak dibarengi tanggung jawab.
Bedanya, keris yang buruk mungkin akan patah ketika digunakan.
Sedangkan teknologi yang buruk dapat merugikan ribuan orang sambil tetap menampilkan tulisan:
"Operation completed successfully."
Dharma Tidak Mengenal Tombol Download
Di antara peninggalan intelektual Nusantara, ada banyak gagasan yang layak dibawa kembali ke ruang percakapan modern.
Salah satunya adalah dharma.
Dalam tradisi pemikiran India dan Nusantara, dharma mempunyai makna yang berlapis: kewajiban, kebenaran, tata kehidupan, serta prinsip yang menjaga keteraturan.
Bayangkan gagasan itu dibawa ke dunia teknologi.
Sebuah aplikasi tidak cukup dinilai dari kecanggihannya, tetapi juga dari tanggung jawab pembuatnya.
Sebuah sistem AI tidak cukup dipuji karena mampu menjawab semua pertanyaan, tetapi perlu ditanya apakah jawabannya membantu manusia atau justru menyesatkannya.
Sebuah platform digital tidak otomatis menjadi kemajuan hanya karena berhasil mengumpulkan banyak pengguna.
Apalagi jika keberhasilannya bergantung pada kemampuan membuat manusia terus menggulir layar sampai lupa waktu, lupa makan, bahkan lupa bahwa hidup berlangsung di luar telepon genggam.
Dharma, dalam pembacaan kontemporer, dapat menjadi pengingat bahwa kemampuan menciptakan sesuatu tidak selalu berarti kita patut menciptakannya.
Di sini kita bertemu dengan jñāna, pengetahuan, dan prajñā, kebijaksanaan.
Pengetahuan mengajarkan bagaimana membuat mesin semakin cerdas.
Kebijaksanaan mengingatkan mengapa mesin itu dibuat.
Sebab komputer mungkin dapat menghitung hampir segala sesuatu yang kita masukkan sebagai data.
Tetapi menentukan apa yang layak diperjuangkan tetap merupakan tanggung jawab manusia.
Dan sampai hari ini, tanggung jawab belum tersedia sebagai paket instalasi.
Sanskrit dan Pemberontakan terhadap Amnesia Budaya
Ada penyakit yang diam-diam menggerogoti masyarakat modern.
Namanya amnesia budaya.
Kita begitu bersemangat menyambut sesuatu yang datang dari luar, tetapi sering memperlakukan khazanah intelektual sendiri seperti barang kuno yang sudah tidak berguna.
Kita mengenal nama-nama tokoh teknologi dunia.
Tetapi belum tentu memahami mengapa leluhur menulis kakawin, membangun candi, atau mewariskan gagasan tentang hubungan manusia dengan alam.
Padahal, masa lalu bukan sekadar gudang kenangan.
Ia merupakan perpustakaan panjang tentang bagaimana manusia mencoba memahami kehidupan.
Dalam eksplorasi gagasan Sanskrit, nama-nama seperti Narotama, Sarvasti, dan Mayagen bisa dibaca sebagai upaya membangun jembatan imajinatif antara kekayaan istilah lama dengan penciptaan teknologi baru.
Narotama mengingatkan pada cita-cita tentang manusia yang unggul dalam kualitas dirinya.
Sarvasti membuka ruang tafsir tentang pengetahuan dan kebermanfaatan.
Mayagen menghadirkan bayangan tentang dunia maya, kecerdasan buatan, dan penciptaan realitas digital.
Tentu, nama saja tidak cukup.
Memberi nama Sanskerta pada aplikasi yang sering mengalami gangguan tidak serta-merta mengubahnya menjadi pusaka.
Membuat logo menyerupai mandala juga tidak otomatis menjadikan perusahaan teknologi memiliki kedalaman spiritual.
Apalagi jika setelah pengguna mengeluh, jawabannya hanya:
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya."
Lalu gangguan yang sama terjadi keesokan hari.
Akulturasi yang sesungguhnya terjadi ketika nilai-nilai lama benar-benar memengaruhi keputusan modern.
Ketika kebijaksanaan menjadi pertimbangan dalam merancang sistem.
Ketika keseimbangan menjadi prinsip pembangunan.
Ketika pengetahuan tidak digunakan untuk merendahkan mereka yang belum memilikinya.
Dan ketika teknologi tidak hanya melayani orang yang mampu membayar mahal.
Warisan budaya bukan sekadar perkara mempertahankan bentuk. Ia juga soal melanjutkan jiwa yang menghidupkannya.
Dari Pertapaan ke Kediri Technopark
Seorang resi dalam cerita-cerita lama kerap digambarkan tinggal jauh dari keramaian.
Ia mencari kejernihan melalui kesunyian.
Tetapi bagaimana jika resi zaman sekarang justru perlu turun ke pasar?
Menemui pedagang yang bingung mengelola usaha.
Mendatangi sekolah yang murid-muridnya ingin mengenal dunia teknologi.
Berbicara kepada masyarakat yang mendengar istilah AI tetapi belum memahami manfaat maupun bahayanya.
Barangkali begitulah bentuk pertapaan baru.
Bukan meninggalkan kehidupan, melainkan masuk ke dalam kerumitannya.
Melalui Kediri Technopark, Mas Kinthoel terlibat dalam kegiatan literasi digital, edukasi AI, dan pengembangan ekosistem teknologi.
Dalam pemberitaan RRI Kediri pada Februari 2026, namanya muncul dalam upaya memperkuat sinergi untuk literasi digital dan pemanfaatan AI.
Kiprahnya juga tercatat dalam kegiatan edukasi dan kompetisi teknologi.
Tentu, semua itu tidak serta-merta menjadikannya manusia suci.
Gelar resi di sini hanyalah metafora.
Mas Kinthoel tetap manusia biasa, yang gagasan dan pekerjaannya patut diuji, dipertanyakan, bahkan dikritik.
Sebab tidak ada teknologi yang menjadi baik hanya karena diciptakan oleh orang yang memiliki niat baik.
Dan tidak ada kebijaksanaan yang bertambah hanya karena seseorang dipanggil mpu.
Kalau setiap orang yang bisa menggunakan AI langsung dinobatkan sebagai resi, mungkin jumlah pertapa digital akan melampaui jumlah pengguna media sosial.
Jangan-Jangan Kita Sedang Menyembah Mesin Baru
Peradaban selalu punya kecenderungan untuk mengagungkan sesuatu yang dianggap lebih berkuasa daripada dirinya.
Dahulu manusia mengenal berbagai dewa dalam sistem kepercayaan dan kebudayaannya.
Sekarang, sebagian orang memperlakukan algoritma seolah tidak mungkin salah.
Apa pun yang dikatakan mesin dianggap benar.
Apa pun yang diprediksi sistem dianggap pasti.
Apa pun yang direkomendasikan platform dianggap perlu.
Kita mungkin sudah tidak membawa sesaji ke hadapan layar komputer.
Tetapi tanpa sadar, kita mempersembahkan waktu, perhatian, kebiasaan, bahkan cara berpikir kepada mesin-mesin yang terus belajar memahami perilaku kita.
Inilah ironi terbesar zaman anyar.
Manusia menciptakan teknologi untuk memperluas kemerdekaannya, tetapi bisa berakhir menjadi tawanan teknologi ciptaannya sendiri.
Seorang resi, andaikan istilah itu masih layak digunakan hari ini, semestinya tidak bertugas membuat manusia semakin tunduk kepada sesuatu yang dianggap sakti.
Ia justru perlu mengingatkan bahwa kekuatan harus selalu disertai kesadaran.
Teknologi adalah alat.
Manusia adalah pihak yang bertanggung jawab atas penggunaannya.
AI boleh semakin cerdas. Tetapi jangan sampai manusia menyerahkan nuraninya kepada mesin.
Kediri Tidak Kekurangan Masa Lalu. Yang Dibutuhkan adalah Masa Depan.
Barangkali sudah waktunya kita berhenti membanggakan sejarah hanya sebagai daftar kejayaan.
Kediri pernah menjadi pusat kekuasaan.
Kediri pernah melahirkan karya sastra besar.
Kediri memiliki peninggalan sejarah dan tradisi pengetahuan yang patut dirawat.
Tetapi kejayaan masa silam tidak otomatis menjamin kemajuan masa depan.
Tidak cukup sekadar mengingat Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, kemudian merasa telah menyelesaikan kewajiban terhadap peradaban.
Pertanyaan sesungguhnya adalah:
Siapa yang sedang menulis karya penting dari Kediri hari ini?
Siapa yang sedang membangun pengetahuan baru?
Siapa yang sedang menciptakan sesuatu yang kelak bermanfaat bagi generasi berikutnya?
Dan yang tidak kalah penting, apakah mereka memperoleh ruang untuk tumbuh?
Sebab kebudayaan tidak seharusnya berhenti pada nostalgia.
Menghormati para mpu bukan berarti harus kembali menulis di atas daun lontar.
Mungkin penghormatan paling masuk akal justru dengan meneruskan keberanian mereka untuk mencipta.
Dengan alat yang berbeda.
Dengan persoalan yang berbeda.
Tetapi dengan kesungguhan yang sama.
Kalau dahulu para pujangga menyusun kata-kata untuk memahami kehidupan, generasi hari ini dapat merancang teknologi untuk memperbaikinya.
Dan jika suatu hari sebuah inovasi lahir dari Kediri, tidak perlu buru-buru menamainya sebagai wahyu.
Cukup pastikan ia benar-benar berguna.
Sang Mpu Belum Selesai Bertapa
Pada akhirnya, Mas Kinthoel bukanlah jawaban atas seluruh kegelisahan zaman.
Ia juga bukan sosok yang harus dibayangkan sedang duduk bersila di tengah kepulan dupa, sementara server kecerdasan buatan menyala di belakangnya.
Ia hanyalah seorang manusia dengan latar teknologi, yang melalui pekerjaan dan keterlibatannya di Kediri Technopark ikut mengambil bagian dalam perubahan zaman.
Namun, dari sosok semacam itulah sebuah pertanyaan menarik dapat lahir.
Mungkinkah kita menciptakan teknologi yang tidak tercerabut dari akar kebudayaan?
Mungkinkah suatu hari anak-anak Kediri mengenal bahasa pemrograman sekaligus memahami warisan intelektual tanah kelahirannya?
Mungkinkah pengetahuan leluhur tidak lagi dipandang sebagai penghalang kemajuan, melainkan sebagai sumber pertanyaan etis untuk membangun masa depan?
Jawabannya tentu belum selesai.
Bahkan mungkin belum benar-benar dimulai.
Sebab menjembatani ratusan tahun peradaban tidak cukup hanya dengan sebuah aplikasi, seminar, atau perusahaan teknologi.
Ia membutuhkan kerja panjang, keberanian menerima kritik, dan kerendahan hati untuk terus belajar.
Kalau para mpu terdahulu menempa besi dengan api, manusia modern ditempa oleh perubahan.
Kalau para resi mencari kejernihan melalui tapa, manusia modern mungkin perlu belajar menemukan kejernihan di tengah banjir informasi.
Dan kalau Mas Kinthoel ingin terus merapal mantra zaman anyar, barangkali mantra terpentingnya justru bukan perintah kepada mesin.
Melainkan pengingat kepada manusia.
Bahwa kecerdasan tanpa kebijaksanaan hanya akan menghasilkan kesaktian yang kehilangan arah.
Bahwa teknologi tanpa kemanusiaan hanyalah mesin yang semakin pandai bekerja.
Dan bahwa masa depan tanpa ingatan terhadap masa lalu berisiko melahirkan generasi yang mampu menjelajah dunia, tetapi tidak tahu dari mana ia berasal.
Maka biarlah algoritma terus berkembang.
Biarlah server terus menyala.
Biarlah kecerdasan buatan semakin menakjubkan.
Tetapi jangan buru-buru menyerahkan takhta kehidupan kepada mesin.
Sebab sekalipun para dewa dalam metafora kita sudah pensiun, manusia masih membutuhkan sesuatu yang jauh lebih tua daripada komputer dan jauh lebih berharga daripada kecerdasan buatan.
Kebijaksanaan.
Dan untuk urusan yang satu itu, bahkan Mas Kinthoel pun masih harus terus belajar.
Seperti kita semua.
Kemplo.co — Di zaman ketika semua orang ingin menjadi cerdas, jangan-jangan yang paling kita butuhkan justru keberanian untuk kembali menjadi bijaksana.